![]() |
| Logo PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) |
Mojokerto, Elkosongsiji.com - Tanggal 22 Desember 2018 kemarin PSSI telah mengumumkan hasil sidang komdis, di mana di dalamnya terdapat hukuman bagi klub PS Mojokerto Putra yang mendapatkan sanksi larangan berkompetisi selama 1 tahun, sedangkan salah satu pemainnya yaitu Krisna Adi Darma Tama dihukum larangan bermain di lingkup PSSI seumur hidup. Hukuman tersebut rasanya sangat aneh dan janggal.
Pertama : Komisi Disiplin PSSI tidak membuka hasil penyelidikan siapa saja yang terlibat pengaturan skor. Siapa pihak yang menyuap dan siapa pihak yang disuap. Berapa besar nominal yang dilibatkan dalam kasus ini. Bagaimana caranya pula penyuapan itu terjadi. Terus kemanakah uang mengalir? Dan yang paling penting siapa dalang di balik semua itu. Komisi Disiplin PSSI tidak pernah membuka hal itu atau apakah komdis tidak pernah melakukan penyelidikan dan hanya memberi hukuman sesuai selera?
Kedua : Dalam sanksi disebutkan, PS Mojokerto Putra mengatur skor di beberapa pertandingan melawan klub lain. Seperti melawan Kalteng Putra, Persegres Gresik United dan Aceh United. Namun pertanyaan, kenapa hanya PS Mojokerto Putra saja yang mendapatkan hukuman itu. Apakah mungkin pengaturan skor hanya melibatkan 1 pihak saja?
Ketiga : PS Mojokerto Putra adalah klub yang kalah atau klub yang gagal melaju ke babak semifinal. Jika PS Mojokerto Putra mengatur skor, seharusnya komdis membuka klub mana yang meminta PS Mojokerto Putra untuk mengalah. Sementara Komisi Disiplin PSSI tidak membuka hal itu.
Keempat : Kasus PS Mojokerto Putra tidak sebesar dengan kasus sepakbola gajah di Liga 2 beberapa tahun yang lalu. Akan tetapi perlakuan sanksi nampak jelas berbeda. Kenapa hal tersebut dapat terjadi?
Hukuman kepada PS Mojokerto Putra sangatlah janggal, bahkan PSSI terkesan asal-asalan dalam memberi hukuman. PSSI seperti menjadikan PS Mojokerto Putra sebagai pelampiasan saja. Komisi Disiplin PSSI tidak pernah membuka siapa saja pihak yang terkait. Namun, Komisi Disiplin PSSI justru memberikan hukuman larangan bermain 1 musim kepada PS Mojokerto Putra. Jika analoginya seperti itu, seharusnya jika ada salah satu exco PSSI terlibat pengaturan skor maka PSSI seharusnya dihentikan juga selama 1 musim. Hukuman yang sangat tidak elok.
PSSI seolah mencuci tangan untuk mencitrakan diri sebagai federasi yg baik. Sepanjang kompetisi musim 2018 kemarin, PSSI mendapat kritik deras dan tajam dari berbagai kalangan. Bahakan PSSI selalu menjadi perbincangan di media sosial. Berkali-kali di angkat ke media, bahkan salah satu acara talkshow TV Nasional. POLRI juga akhirnya membentuk satgas anti mafia bola.
Bukan tidak mungkin, jika PSSI sudah di ujung kepanikan atas kritik yang deras dan bertubi-tubi tersebut. Bukan tidak mungkin pula jika PS Mojokerto Putra dijadikan pelampiasan untuk mencitrakan PSSI. [man/was]
Penulis Usman

No comments:
Post a Comment