ELKOSONGSIJI.COM,
Mojokerto - Sepak bola Indonesia seperti halnya sebuah permainan
penguasa. Yang hanya untuk sebuah kepentingan demi jabatan dan uang. Padahal tujuan sejatinya sebuah sepak bola untuk mempersatukan anak bangsa dari berbagai
macam golongan.
Di era modern yang serba dipermudah dengala macam teknologi berkembang, tak lantas membuat para penguasa federasi bisa beranjak dari keterpurukan selama ini. Setelah kurang lebih 2 tahun disangsinya sepak bola Indonesia oleh FIFA, akibat pemerintah ikut campur mengurusi sepak bola.
Hal itu masih dirasa banyak pihak belum menjadi pembelajaran baik untuk kemajuan sepak bola Indonesia. Padahal harapan pemerintah Indonesia melalui Kemenpora yang saat itu juga memberikan sanksi agar menjadi koreksi diri Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI.red).
Akhir dari sebuah perjalanan saksi itu digantinya kepengurusan PSSI yang lama dengan yang baru. Hal ini ternyata PSSI masih bercokol para pengurus lama. Slogan "Menuju Sepak Bola Indonesia Yang Lebih Baik" hanyalah sebuah kalimat semata.
Di era modern yang serba dipermudah dengala macam teknologi berkembang, tak lantas membuat para penguasa federasi bisa beranjak dari keterpurukan selama ini. Setelah kurang lebih 2 tahun disangsinya sepak bola Indonesia oleh FIFA, akibat pemerintah ikut campur mengurusi sepak bola.
Hal itu masih dirasa banyak pihak belum menjadi pembelajaran baik untuk kemajuan sepak bola Indonesia. Padahal harapan pemerintah Indonesia melalui Kemenpora yang saat itu juga memberikan sanksi agar menjadi koreksi diri Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI.red).
Akhir dari sebuah perjalanan saksi itu digantinya kepengurusan PSSI yang lama dengan yang baru. Hal ini ternyata PSSI masih bercokol para pengurus lama. Slogan "Menuju Sepak Bola Indonesia Yang Lebih Baik" hanyalah sebuah kalimat semata.
Tidak
ada niat yang sesungguhnya untuk benar-benar berubah dan memperbaiki
prestasi sepak bola Indonesia. Dengan masih banyaknya pengurus lama yang
bercokol dalam kepengurusan PSSI yang baru.
Seperti
program dan format Liga Indonesia yang baru terbentuk akhir tahun 2016
lalu. Masih amburadulnya jadwal dan format liga yang diharapkan bermuara
pada prestasi Timnas Indonesia. Salah satu contoh Liga 2 Indonesia baru
2017 adalah liga terkejam didunia. Lebih dari 40 klub harus lengser
kebrabon ke liga 3.
Kita
patut bersyukur karena PSMP Mojokerto yang bisa bertahan di Liga 2,
karena kalau sampai terdegradasi butuh wktu dan perjuangan yang sangat
berat untuk bisa naik kasta lagi. Dan capaian yg sangat membanggakan
untuk PSMP tidak hanya memastikan diri bertahan di liga 2, tapi juga
mampu masuk 16 besar. Pencapaian point yang sangat membuka lebar menuju 8
besar.
Tidak
menutup kemungkinan PSMP Mojokerto bisa menuju ke kasta tertinggi (liga
1.red). Target awal memang bertahan di liga 2, akan tapi kalau
kesempatan naik liga 1 didpan mata apa boleh buat, pamalih untuk
disia-siakan. Urusan uboh rampe itu dipikir belakangan, wes kepalang
teles (kata orang jawa) dan Tuhan pasti berikan jalan.
"Kepada
segenap masyarakat mojokerto kami dari management mohon do'a dan
dukungannya utk dapat membawa club kebanggaan kita ke jenjang lebih baik
dan lebih tinggi. Tentunya juga dengan didukungnya sarana dan prasarana
memadai sebagai club profesional".
Sepak
bola bukan sekedar bermain menendang bola, sepak bola adalah gaya hidup
di masa kini. Banyak juga masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari
sepak bola, mulai pelatih, pemain, official, media, penjual merchandise,
pedagang asongan dll.
Jika dilihat dari ruang yang lebih kecil lagi, pola liga yang sudah-sudah hanya untuk sepakbola Indonesia kasat mata. club-club yang terlibat pun hanya mereka dengan status “layak jual”. Sepakbola muaranya tentu prestasi.
Jika dilihat dari ruang yang lebih kecil lagi, pola liga yang sudah-sudah hanya untuk sepakbola Indonesia kasat mata. club-club yang terlibat pun hanya mereka dengan status “layak jual”. Sepakbola muaranya tentu prestasi.
Apa dan bagaimana cara menuju itu tentu kalian paham
sebenarnya. Sistem yang jelas, kompetisi yang berjenjang serta niat yang
suci untuk benar-benar mau dan mampu berada digaris depan.
"Sepak
bola adalah mimpi banyak orang, di sana telah terjadi suka maupun
duka". Tetapi semangat "totalitas support dan menghidupi" menjadi spirit
tersendiri seorang kelompok supporter sepak bola, khususnya di
Mojokerto ini.
Oleh : Firman Efendy, ST. (President Direktur PT. Semangat Mojokerto Putra)

No comments:
Post a Comment