Suporter dan klub sepak bola ibarat sayur dan garam, tak bisa dipisahkan. Keduanya saling melengkapi, walau tak melulu sehati. Tak jarang, klub harus kena sanksi lantaran ulah brutal suporter. Sebaliknya, fans kecewa karena tim kebanggaan tak tampil dengan performa terbaik. Di kompetisi mana pun, kehadiran fans sangat ditunggu. Suporter adalah penyemangat, karena itulah mereka disebut sebagai "pemain ke-12". Selama pertandingan, tak jemu berteriak, koor, menabuh tetabuhan, melambai-lambaikan syal dan atribut kesebelasan atau poster pemain idola. Tujuannya hanya satu: kemenangan.
Suporter tak hanya disorot soal tawuran, tapi juga fanatismenya yang salah kaprah. Menyalakan kembang api dan petasan secara berlebihan juga dianggap teror dalam bentuk lain. Mengenai ini, Indonesia beberapa kali ditegur oleh AFC dan FIFA baik dalam laga kompetisi maupun saat tim nasional menjamu lawan. Banyak pihak sudah meminta agar suporter tak anarkis. Akan tetapi, suporter masih saja terus berulah. "Sudah saatnya semua suporter bersatu dan memajukan sepak bola Indonesia," kata Roy Suryo, Menteri Pemuda dan Olahraga, terkait tindakan anarkis para suporter.
Memang, tak semua suporter brutal. Sebagian lagi patuh terhadap aturan, bahkan rela merogoh kocek untuk membeli tiket. Suporter seperti bisa menerima kekalahan timnya dengan lapang dada dan tak sungkan memuji tim lawan. Paling kalau kesal, mendemo manajemen ramai-ramai, seperti yang dilakukan The Jak usai putaran pertama ISL 2012/2013. Hasilnya cukup signifikan, sejumlah pemain baru direkrut dan dua laga bisa diselesaikan dengan baik.

No comments:
Post a Comment